PELIBATAN KELUARGA TERHADAP PENDIDIKAN DIERA MILLENNIALS

Sebagai lingkungan awal pendidikan anak tentu keluarga sangat berpengaruh besar terhadap kehidupannya. Karena keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan juga perilaku dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling nyata, tepat dan amat besar pengaruhnya.

Apabila konsep yang sebelumnya diterapkan ialah orang tua bertindak sebagai panutan sumber informasi anak dengan berbagai pengalamannya yang telah terlebih dahulu hidup. Namun kini situasinya berbeda, terutama sejak era yang dinamakan Era Millennials atau biasa disebut dengan Kaum Millennials hadir. Kenapa demikian? Apakah yang membedakan antara generasi ini dengan para pendahulunya? Peluang dan tantangan apa yang akan dihadapi oleh era tersebut? mungkin itulah beberapa pertanyaan umum yang banyak ditanyakan masyarakat mengenai fenomena kaum millenial ini. Untuk dapat menjawabnya tentu kita harus terlebih dahulu memahami apa itu kaum millenial.
Gambar 1.1. Eksistensi merupakan kebutuhan dikalangan Millenials
Sumber: Data pribadi

Kaum Millennials adalah mereka yang lahir diantara tahun 1980 sampai 1990. Lahir diantara berbagai aplikasi media sosial seperti Facebook, Instagram dan lain-lain. Berbeda dengan generasi X yang lahir diantara buku-buku perpustakaan, yang mana setiap kali mereka ada masalah mereka harus bertanya pada orang tua maupun guru mereka atau bahkan harus bergadang di perpustakaan semalaman untuk mencari pertanyaan yang kadang usaha tersebut juga tanpa hasil. Namun saat ini dengan beragam kemudahan dalam mengakses informasi tentu bukan hal yang tabu apabila seorang anak dapat mengetahui apa yang menjadi masalah dan pertanyaan mereka tanpa harus bertanya kepada orang tua maupun gurunya karena saat ini setiap anak telah memiliki mbahnya masing-masing yang dinamakan "mbah google".

Tanpa disadari kedatangan era tersebut merubah banyak kebiasaan masyarakat, bahkan termasuk juga orang tua kita. Jika sebelumnya orang tua cenderung bersikap keras, dimana jika seorang anak salah maka mereka akan dipukul. Begitupun guru mereka juga sama kerasnya, jika kuku siswanya panjang maka jari siswa tersebut akan dicium oleh penggaris besi. Itulah mengapa dahulu anak-anak takut terhadap gurunya. Namun zaman ini berbeda, anak-anak cenderung tidak takut terhadap gurunya, sebagai contoh kasus apabila ada guru yang mencubit siswanya maka akan langsung melaporkan tindakan tersebut sebagai salah satu bentuk penganiayaan dengan berlindung pada undang-undang penganiayaan yang sebetulnya bukan diperuntukan untuk kasus tersebut dan sudah pasti harapannya tindakan tersebut masuk kedalam pidana. Namun tidak dengan orang tua sekarang (millenials) yang selalu berkata "So don't be affraid anymore. So don't be affraid of them..." tapi mungkinkah ini yang membuat generasi X lebih disiplin dan lebih kuat dalam menghadapi kenyataan dalam hidup? Dengan mengajarkan untuk menjadi diri sendiri dan bukan untuk menjadi orang lain di media sosial yang punya dua akun dan yang satunya tanpa profil. Pertanyaannya adalah yang satu itu untuk apa? We don't get that, same as we don't get what is OOTD? Atau apasih gunanya memposting makanan kalian di Instagram? Yes, that's you most millennials. 
But I know one thing, saat ini dengan semua yang kalian miliki kalian akan menjadi lebih pintar dibandingkan pendahulu kalian. Because now, you can learn everthing from anywhere.
Namun yang jadi masalah ialah, tidak semua konten di dunia maya ini baik. Lalu bagaimana  cara kita memfilter konten-konten tersebut? Tentu perlu ada keterlibatan peran orang-orang terdekat di dalamnya, karena perlu diketahui bahwa bukan pendidikan, bukan faktor keluarga dan bukan faktor ekonomi yang menyebabkan seseorang akan mencapai karakter juga suksesnya. Namun yang paling berpengaruh ialah lingkungan, tentang bagaimana lingkungan amat sangat berpengaruh terhadap hidup seseorang kedepannya. Where it makes sense you know. That will change your life for the better! Jadi keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat harus dapat mengakomodir setiap masalah ataupun tantangan yang dihadapi oleh seorang anak tanpa harus membelenggu aspirasinya. Jangan sampai yang terjadi adalah anak merasa ada rumah lain yang dirasa lebih nyaman, karena tentu ini sangatlah beresiko untuk keberlangsungan hidupnya dimasa yang akan datang. Lalu apa saja poin-poin yang perlu ditekankan oleh keluarga dalam upaya mengontrol anak pada era ini:

1. Pendampingan Orang Tua dalam hal Tayangan

Gambar 1.2. Pengawasan orang yang lebih dewasa terhadap tayangan si kecil.
Sumber: Data Pribadi

Beberapa waktu lalu peristiwa memprihatinkan yang terjadi disalah satu apartement di daerah Jakarta membuat publik menyoroti pentingnya memilih tayangan yang layak bagi anak karena anak-anak sering meniru apa yang mereka lihat apalagi pada sesuatu yang diidolakannya. Untuk itu, pendampingan orang tua untuk memberi lingkungan yang kondusif amatlah penting terutama dalam pembentukan karakter buah hati. Dampak visual dari apa yang mereka tonton akan sangat menentukan pada kepribadiannya terutama untuk anak dibawah usia tujuh tahun yang belum bisa membedakan mana tayangan yang realita maupun imajinasi.

2. Edukasi Sex sesuai porsinya sedari dini

Gambar 1.3. Tetap melakukan bimbingan dan juga pengawasan terhadap anak di tempat bermain
Sumber: Data pribadi

Siapa sangka justru di ruang interaksi sosial anak seperti sekolah anak dan juga tempat bermain, ancaman kekerasan dan pelecehan seksual mengintai itu sebabnya pengawasan dari orang tua sangatlah mutlak. Pencegahan ini dilakukan untuk memutus mata rantai tindak pelecehan yang semakin menjadi. Hal ini diperkuat dengan banyaknya laporan terhadap KPAI (Komisi Perlndungan Anak Indonesia), hingga per bulan Februari 2018 kemarin saja telah ada sebanyak 223 laporan dan diantara kasus tersebut ditemukan fakta bahwa banyak diantara pelakunya merupakan korban kekerasan seksual dimasa lalu. Lalu bagaimana cara memutus mata rantai tersebut? Caranya ialah dengan mengenalkan sejak awal pada buah hati mengenai kebertubuhannya. Dimana bahwa dia punya hak atas tubuhnya dan juga dia harus tahu bahwa tubuhnya terdiri dari beberapa komponen-komponen, ada yang sifatnya pribadi dan ada juga yang sifatnya untuk umum namun pada dasarnya semua itu milik dia. Diawali dengan memberitahunya mengenai jenis sentuhan, ada tiga jenis sentuhan yaitu:
  • Sentuhan Baik & Boleh, seperti membelai kepala dan mencubit pipi
  • Sentuhan Harus Waspada, merupakan sentuhan dibawah bahu hingga atas lutut tubuh anak
  • Sentuhan Jelek & Terlarang, pada bagian ini anak harus diajarkan untuk berani menolak dan berkata tegas.
Dengan pengetahuan anak mengenai hal tersebut maka diharapkan setiap aktivitas yang terindikasi merupakan bentuk tindakan pelecehan akan dapat diantisipasi sejak awal.

3. Parenting Mengenai Kejujuran

Secara fitrahnya, anak terlahir dengan sifat jujur. Adapun beberapa hal yang berpengaruh yaitu lingkungan, pola asuh dan orang-orang yang ada disekitarnya. Dan ketika ketidakjujuran tersebut diketahui yang terjadi adalah anak tersebut kurang percaya diri. Dengan kurang percaya diri anak maka akan sulit untuk melakukan eksplorasi dan mengaktualisasikan dirinya. Lalu bagaimana caranya? Dalam menanamkan sikap jujur sejak dini, Sikhah, dalam laman
sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id memberikan tips sebagai berikut:
  • Latihlah sikap kejujuran anak dengan tanya jawab sederhana apa yang sudah dilakukan. Setelah pulang sekolah ajak anak berdialog apa saja peristiwa yang terjadi di sekolah, baik dengan teman atau dengan guru.
  • Ceritakan tokoh-tokoh penting yang menjunjung sikap jujur dalam hidupnya. Hal ini akan memicu anak memiliki tokoh idola yang menjadi panutan dalam bersikap dan berbicara.
  • Perdengarkan dongeng-dongeng sarat makna kejujuran. Dongeng walaupun imajinatif namun dapat memberi pengaruh positif pada anak tentang nilai-nilai kebaikan. Apalagi jika tokoh dalam dongeng merupakan idola anak.
  • Ajaklah anak bermain peran, misal pasar-pasaran. Seperti sebuah studi kasus dimana guru dapat menjelaskan dalam permainan ini bahwa antara penjual dan pembeli hendaknya bersikap jujur. Penjual jujur dengan kondisi dagangannya, pembeli jujur dengan keinginan terhadap barang yang dibelinya. Dengan bermain peran anak-anak akan lebih mendalami mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk.
  • Yang lebih utama berilah role model yang baik dari lingkungan terdekat anak,  apalagi orang tua harus menjadi teladan utama bagi anak-anaknya. Ingatlah, anak adalah peniru ulung apa yang dilihat dan didengar langsung di sekitar lingkungannya. Sekali orang tua berbohong, seorang anak akan menganggap benar suatu kebohongan yang dilakukan orang tua sehingga suatu saat anak akan meniru.
  • Tanamkan pada anak bahwa jujur adalah suatu sikap yang mahal harganya, jika dirusak oleh kebohongan akan berimbas pada kehilangan harga diri dan di masyarakat akan menjadi noda yang sulit dihilangkan dari pandangan manusia. Generasi jujur lebih mempunyai nilai yang berharga dari apapun.

4. Pendidikan Moral

Moral ini pun berpengaruh besar dalam setiap tindakan anak dan juga kepribadiannya. Sebagai contoh buruk ialah seperti sikap yang nakal, kurang disiplin, tidak sopan, suka berkata kasar, malas beribadah dan tidak mau hormat kepada orang yang lebi tua. Dalam hal ini kembali lagi orang tualah yang memiliki peranan dan posisi penting terhadap pembentukan karakter anak. Keluarga sebagai ajang sosialisasi dan memiliki kedudukan multifungsional sehingga proses pendidikan sangat berpengaruh bagi anak. Ingat dalam hal ini, setiap interaksi dengan anak merupakan kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai fundamental dalam bersikap seperti moralitas dan agama. Selain itu pembiasaan juga sangat diperlukan, melalui pembiasaan anak akan menjadi terbiasa membuat sesuatu tanpa terpaksa. Maka dari itu orang tua wajib menunjukan sikap yang bisa diteladani agar anak bisa menjadikan mereka panutan yang berdampak baik pada kehidupannya.

So, that's point dari semua tips tersebut pelibatan keluarga wajib dilakukan sedari dini, kenapa sedari dini? Agar dapat membentuk pondasi yang kuat dan kokoh pada pembentukan karakter mereka, yang mana biarpun dinamisme zaman terus berkembang orang tua tetap harus menjadi pendamping juga pengingat disetiap tahapan yang dilalui anak-anaknya. Begitupun anak perlu tahu bahwa tidak akan ada kebaikan apapun yang bisa melebihi dari ketulusan dan rasa kasih sayang orang tuanya. Percayalah itu semua untuk kebaikan anak-anaknya dimasa yang akan datang.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hal positive yang terjadi saat ini terhadap kemajuan anak-anak Indonesia selain beberapa dampak negatif yang memang tengah jadi perhatian saat ini,
despite  all that I said, they are the new generation, smarter, brighter and more knowledgeable also more tolerance and that is a good point. And we believe in you and we even put a trust on you, and not just a trust but we also put our hope on you. A hope to bring this world for better future. So let's start from be a better version of ourselves and yes, you can Millenials.
#sahabatkeluarga

We Are Member of:

Industrial Engineering:

Blog:

Attention for every visitor!

Silahkan like, comment, share and subscribe sebagai bentuk dukungan agar kita bisa terus membagikan informasi yang yang berguna untuk semuanya. Karena satu klik saja akan sangat berarti bagi kita. -Arif (Founder Sentimen Info)

We are supported by

Instagram Content